Kamis, 30 Mei 2013

Setting Modem Speedy

ADSL Modem SMC

  • Default IP: 192.168.2.1
  • Default password: smcadmin

Setting Bridge:

  1. Klik WAN
  2. Klik ATM PVC
  3. Klik VCI
  4. Protocol: 1483 Bridging, VLAN: Default, VPI/VCI: 8/81, Encapsulation: LLC, Qos Class: UBR, PCR/SCR/MBS: 4000/4000/10
  5. Klik Save Settings
Adsl Modem SMC

Setting PPPoE:

  1. Klik WAN
  2. Klik ATM PVC
  3. Klik VCI
  4. Protocol: PPPoE, VPI/VCI: 8/81, Encapsulation: LLC, QoS Class: UBR, PCR/SCR/MBS: 4000/4000/10, IP assigned by ISP: Yes, IP Address: 0.0.0.0, Subnet Mask: 0.0.0.0, Connect Type: Always Connected, Idle Time (Minute): 5, Username: (nomor speedy)@telkom.net, Password: (password dari telkom), Confirm Password: , MTU: 1492
  5. Klik Save Settings

ADSL Modem ZyXeLP-660R

  • Default IP: 192.168.1.1
  • Default username: admin
  • Default password: 1234

Setting Bridge:

  1. Pilih Network
  2. Pilih WAN
  3. Mode: Bridge, Encapsulation: RFC 1483, Multiplexing: LLC, VPI: 8, VCI: 81, Apply
  4. Pilih Maintenance
  5. Pilih Tools
  6. Restart

Setting PPPoE:

  1. Pilih Network
  2. Pilih WAN
  3. Mode: Routing, Encapsulation: PPPoE, Username: ( nmrspeedy@telkom.net), Password: (password speedy), Service Name: Speedy, Multiplexing: LLC, VPI: 8, VCI: 81, IP Address: Obtain an IP Address Automatically, Connection: Nailed-Up Connnection, Apply
  4. Pilih Maintenance
  5. Pilih Tools
  6. Restart

ADSL Modem Shiro

  • Default IP: 192.168.1.1
  • Default username: admin
  • Default password: admin

Setting Bridge:

  1. Klik Advanced
  2. Klik WAN
  3. Klik New Connection
  4. Connection Name: Speedy, Type: Bridge, VPI: 8, VCI: 81, and Submit
  5. Save Settings
  6. Restart Router
ADSL Modem Shiro

Setting PPPoE:

  1. Pilih Advanced
  2. Klik WAN
  3. Klik New Connection
  4. Connection Name: Speedy, Type: PPPoE, Sharing: Enable, Encapsulation: LLC, Username: (nomor speedy)@telkom.net, Password: (password dari telkom), VPI: 8, VCI: 81, and Submit
  5. Save Settings
  6. Restart Router
Adsl Modem Shiro

ADSL Modem Aztech

  • Default IP: 192.168.1.1
  • Default username: admin
  • Default password: admin

Setting Bridge:

  1. Klik Advanced
  2. Klik WAN
  3. Klik New Connection
  4. Connection Name: Speedy, Type: Bridge, VPI: 8, VCI: 81, and Submit.
  5. Save Settings
  6. Restart Router

Setting PPPoE:

  1. Pilih Advanced
  2. Klik WAN
  3. Klik New Connection
  4. Connection Name: Speedy, Type: PPPoE, Sharing: Enable, Encapsulation: LLC, Username: nmrspeedy@telkom.net, Password: (password dari telkom), VPI: 8, VCI: 81, and Submit.
  5. Save Settings
  6. Restart Router

Selasa, 28 Mei 2013

KECAMATAN

Kabupaten Lampung Tengah melingkupi 28 kecamatan, sebagai berikut:
  1. Anak Ratu Aji
  2. Anak Tuha
  3. Bandar Mataram
  4. Bandar Surabaya
  5. Bangun Rejo
  6. Bekri
  7. Bumi Nabung
  8. Bumi Ratu Nuban
  9. Gunung Sugih
  10. Kalirejo
  11. Kota Gajah
  12. Padang Ratu
  13. Pubian
  14. Punggur
  15. Putra Rumbia
  16. Rumbia
  17. Selagai Lingga
  18. Sendang Agung
  19. Seputih Agung
  20. Seputih Banyak
  21. Seputih Mataram
  22. Seputih Raman
  23. Seputih Surabaya
  24. Terbanggi Besar
  25. Terusan Nunyai
  26. Trimurjo
  27. Way Pengubuan
  28. Way Seputih

PERTAMBANGAN

Potensi pertambangan yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Tengah diantaranya marmer, granit, andesit, felspart, pasir, diorit, batu kapur, lempung, pasir kuarsa, pasir batu (sirtu).

PERDAGANGAN

Ekspor Produk Asal Kabupaten Lampung Tengah

PETERNAKAN

Populasi Ternak di Kabupaten Lampung Tengah, adalah sebagai berikut:

PERINDUSTRIAN

Kondisi jumlah unit usaha, jumlah tenaga kerja, nilai investasi dan nilai produksi industri kecil dan menengah :

PERKEBUNAN

Kondisi luas areal,jumlah produksi dan produktivitas perkebunan :

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lampung Tengah

PERTANIAN

Kondisi luas panen dan jumlah produksi pertanian tanaman pangan :


Kondisi luas tanam, luas panen dan jumlah produksi pertanian tanaman hortikultura

Sumber : Dinas Pertanian TPH Kabupaten Lampung Tengah

Demografi

Jumlah Penduduk Kabupaten Lampung Tengah pada Tahun 2011 berjumlah 1.183.427 jiwa,  atau meningkat sebesar 1,14 persen dibandingkan dengan jumlah penduduk Tahun 2010 yang berjumlah 1.170.04 jiwa.
Penduduk Kabupaten Lampung Tengah pada Tahun 2011 didominasi oleh penduduk laki-laki yang berjumlah 605.839 jiwa dan penduduk perempuan 577.588 jiwa. Banyaknya penduduk laki-laki tercermin dari rasio jenis kelamin,  pada tahun 2011  rasio jenis kelamin 105, artinya pada Tahun 2011 setiap 100 penduduk perempuan terdapat 105 penduduk laki-laki.

Persentase jumlah penduduk Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2011 menurut kelompok umur  adalah kelompok umur  (0-14) sebesar 28,56 %;  kelompok umur (15-64) sebesar 65,67 %;  dan kelompok umur 65 ke atas sebesar 5,77 %.  Sedangkan pada Tahun 2010 jumlah penduduk menurut kelompok umur adalah kelompok umur  (0-14) sebesar 28,60 %; kelompok umur (15-64) sebesar 65,70 %;  dan kelompok umur 65 ke atas sebesar 5,92 % .

Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan

Persentase Penduduk Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2011 menurut ijazah yang dimiliki pada sebagian besar tamat SD 36,6 persen, belum/tidak memiliki ijazah 19,4 persen, sedangkan yang memiliki ijazah SMP sederajat 21,5 persen, SMA sederajat 19,3 persen dan Perguruan Tinggi mencapai 3,2 persen.

Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Pekerjaan

Penduduk Kabupaten Lampung Tengah pada Tahun 2011 umumnya berusaha pada sektor primer yaitu sebesar 61,9 persen, kemudian diikuti sektor tersier 25 persen dan sektor sekunder 13,1 persen.

Selain lapangan pekerjaan, status pekerjaan juga merupakan indikator yang dapat menggambarkan karakteristik pekerja. Berdasarkan trend yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2011 komposisi penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja menurut status pekerjaannya di Kabupaten Lampung Tengah diprediksikan sebagai berikut: Berusaha Sendiri sebesar 10,38%; Berusaha Dibantu Pekerja Tidak Tetap sebesar 30,3%; Berusaha Dibantu Pekerja Tetap sebesar 2,4%; Buruh/Karyawan sebesar 15,8%; Pekerja Bebas Di Pertanian sebesar 7,6%; dan Pekerja Tidak Dibayar sebesar 27,32%.

Ekonomi

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Berdasarkan harga berlaku PDRB Kabupaten Lampung Tengah mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Pada Tahun 2011 PDRB Kabupaten Lampung Tengah sebesar Rp 19.527.680 juta atau meningkat sebesar 17,36 persen dibanding Tahun 2010 yang sebesar Rp. 16.639.376 juta.
Demikian juga berdasarkan harga konstan PDRB Kabupaten Lampung Tengah mengalami peningkatan, pada Tahun 2011 PDRB Kabupaten Lampung Tengah  sebesar Rp. 6.556.481 juta atau meningkat sebesar 5,26 persen dibanding Tahun 2010 yang sebesar Rp. 6.228.793 juta.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

Tingkat perkembangan riil ekonomi makro Kabupaten Lampung Tengah dapat dilihat dari pencapaian indikator Laju pertumbuhan Ekonomi (LPE), atas dasar harga konstan, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Tengah pada 2011 mencapai sebesar 5,26 persen.

Pendapatan Perkapita

Indikator tingkat kesejahteraan masyarakat dilihat dari tingkat pendapatan per kapita penduduk pada setiap tahunnya. Pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku penduduk Kabupaten Lampung Tengah pada Tahun 2011 sebesar Rp 16.500.958,00  atau meningkat 16,09 persen dibanding Tahun 2010 sebesar Rp 14.212.979.
Pendapatan per kapita atas dasar harga konstan penduduk Kabupaten Lampung Tengah pada Tahun 2011 sebesar Rp 5.540.250,00  atau meningkat 4,13 persen dibanding Tahun 2010 sebesar Rp. 5.320.495.

Geografis

Kabupaten Lampung Tengah meliputi areal seluas 4.789,82 Km2 yang terletak pada bagian tengah Propinsi Lampung, berbatasan dengan:

  • Sebelah Utara dengan Kabupaten Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat dan Kabupaten Lampung Utara
  • Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesawaran
  • Sebelah Timur dengan Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro
  • Sebelah Barat dengan Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat


Secara Geografis Kabupaten Lampung Tengah terletak pada 104°35’ sampai dengan 105°50’  Bujur Timur dan 4°30” sampai dengan 4°15’ Lintang  Selatan.

Letak Kabupaten Lampung Tengah cukup strategis dalam konteks pengembangan wilayah. Sebab selain dilintasi jalur lintas regional, baik yang menghubungkan antar provinsi maupun antar kabupaten/kota di Provinsi Lampung, juga persimpangan antara jalur Sumatera Selatan via Menggala dan jalur Sumatera Selatan serta Bengkulu via Kotabumi. Bagian selatan jalur menuju ke Kota Bandar Lampung, bagian timur menuju jalan ASEAN, Kabupaten Lampung Timur dan Kotamadya Metro. Sementara bagian barat jalur menuju Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Tanggamus serta jalur lintas kereta api jurusan Bandar Lampung-Kertapati, Palembang.

Berikut ini adalah beberapa sungai yang mengalir di Kabupaten Lampung Tengah:

SEJARAH LAMPUNG TENGAH

Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 12 tahun 1999, Kabupaten Lampung Tengah mengalami pemekaran menjadi dua kabupaten dan satu kota yaitu Kabupaten Lampung Tengah sendiri, Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro. Seiring otonomi daerah serta pemekaran wilayah, ibukota Kabupaten Lampung Tengah yang semula berada di Kota Metro, pada tanggal 1 Juli 1999 dipindahkan ke Kota Gunung Sugih.  Kegiatan pemerintahan dengan skala kabupaten dipusatkan di Kota Gunung Sugih sedangkan kegiatan perdagangan dan jasa dipusatkan di Kota Bandar Jaya.
Sejarah Penduduk

Penduduk Lampung Tengah terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu masyarakat pribumi dan masyarakat pendatang. Masyarakat pribumi; warga penduduk asli yang sudah lama menetap bahkan turun temurun mendiami tempat ini. Sedangkan masyarakat pendatang adalah penduduk pendatang yang tinggal dan menetap di sini. Penduduk pendatang terbagi lagi menjadi 2 (dua) unsur yakni pendatang lokal/suku Lampung dari luar Lampung Tengah dan pendatang dari luar kabupaten (bukan asli suku Lampung) dan luar provinsi.

Provinsi Lampung yang telah terlanjur dinobatkan dengan sebutan ‘Indonesia Mini’ karena keanekaragaman suku-suku bangsa bermukim di tempat ini (karena adanya transmigran dan pendatang lainnya), juga tak terkecuali dengan Lampung Tengah. Kabupaten yang dimekarkan tahun 1999 itu sendiri, selain didiami penduduk pribumi banyak pula masyarakat pendatang yang berdiam serta menetap. Berbagai suku bangsa seperti Jawa, Bali, Sunda, Palembang, Padang, Batak dan sebagainya mendiami belahan daerah-daerah Kabupaten Lampung Tengah.

Bila melihat perkembangannya, pembauran masyarakat yang ada di Lampung Tengah secara garis besar dikarenakan dulu adanya transmigrasi sejumlah kelompok masyarakat terutama dari Pulau Jawa dan Bali. Selebihnya adalah penduduk pendatang lain yang pindah serta menetap di sini. Mereka membaur dalam kelompok masyarakat. Dari waktu ke waktu pertumbuhannya semakin meningkat sehingga menjadi bagian dari masyarakat Lampung Tengah seperti halnya penduduk pribumi.

Penyebaran penduduk melalui program transmigrasi terhadap sejumlah masyarakat terutama dari luar pulau ke Kabupaten Lampung Tengah sebenarnya sudah ada sejak kolonial Belanda. Kepindahan penduduk pendatang dari luar daerah masih berlangsung setelah kemerdekaan. Bahkan perpindahan tersebut jumlahnya cukup banyak. Sebagian besar para transmigran yang datang ke Kabupaten Lampung Tengah, ditempatkan di beberapa district.

Selama dalam tahun 1952 sampai dengan 1970 pada objek-objek transmigrasi daerah Lampung telah ditempatkan sebanyak 53.607 KK, dengan jumlah sebanyak 222.181 jiwa, tersebar pada 24 (dua puluh empat) objek dan terdiri dari 13 jenis/kategori transmigrasi. Untuk Kabupaten Lampung Tengah saja antara tahun itu terdiri dari 4 (empat) objek, dengan jatah penempatan sebanyak 6.189 KK atau sebanyak 26.538 jiwa.

Areal penempatan atau daerah kerja yang dijadikan objek penempatan transmigrasi di daerah Lampung, umumnya berasal dari tanah-tanah marga, baik yang diserahkan langsung kepada Direktorat Transmigrasi oleh pemerintah daerah setempat melalui prosedur penyerahan maupun bekas-bekas daerah kolonisasi dulu, seperti objek-objek transmigrasi di daerah Lampung Tengah.

Demi tercapainya integrasi dan assimilasi dengan penduduk setempat (pribumi) serta dalam rangka pemekaran daerah dari jumlah objek-objek transmigrasi tersebut, secara berangsur-angsur telah pula dilakukan penyerahannya kepada Pemda setempat. Selanjutnya objek-objek transmigrasi yang sudah diserahkan itu sepenuhnya menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah yang bersangkutan, baik secara tehnis administratif maupun pembinaan dan pengembangannya.

Seiring penyebaran dan pemerataan penduduk di Kabupaten Lampung Tengah, laju pertumbuhannya kian bertambah dari tahun ke tahun. Setidaknya, setelah Lampung Tengah menjadi tujuan trasmigrasi, pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Peningkatan pertumbuhan tersebut tentu saja disebabkan adanya para pendatang dalam jumlah cukup besar melalui perpindahan ini.

Beragam suku, bahasa, agama dan adat istiadat telah pula mewarnai kehidupan penduduknya. Pada sejumlah tempat, akan ditemui perkampungan masyarakat yang masih sesuku dengan adat budayanya, percakapan sehari-hari yang mempergunakan bahasa daerah masing-masing, sarana ibadah menurut kepercayaannya dan lain-lain. Perpindahan sekelompok masyarakat ini memunculkan pembauran antara pribumi dan pendatang. Mereka membaur serta berinteraksi dalam kemajemukan yang sudah terjalin.

Menurut Undang-undang (UU) No. 3 Tahun 1972, Transmigrasi adalah kepindahan atau perpindahan penduduk dengan sukarela dari suatu daerah ke daerah yang ditetapkan di dalam wilayah negara Republik Indonesia atas dasar alasan-alasan yang di pandang perlu oleh negara. Sedang transmigran, merupakan setiap warga negara Republik Indonesia yang secara sukarela dipindahkan atau dipindah menurut pengertian sebagaimana yang di pandang perlu oleh negara.

Kampung paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut mayoritas Islam dan sebagian lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Sebagian besar dari masyarakat ini tadinya bermula dari transmigran yang ditempatkan di Lampung Tengah waktu itu. Mereka berasal dari bagian tengah dan timur pulau Jawa. Didalam pergaulan hidup sehari-hari di kampung, mereka mempergunakan bahasa Jawa sebagai penutur. Menurut penuturannya, untuk mengucapkan bahasa Jawa, seseorang harus memperhatikan serta bisa membedakan keadaan orang yang diajak bicara maupun yang sedang dibicarakan. Perbedaan itu berdasarkan usia atau status sosialnya. Sebab pada prinsipnya, jika di tinjau dari krateria tingkatannya bahasa daerah ini terdiri dari bahasa Jawa Ngoko dan Krama.

Berbahasa Jawa Ngoko di pakai bagi orang yang telah di kenal akrab, terhadap orang lebih muda usianya serta lebih rendah derajat atau status sosialnya. Lebih khusus lagi adalah bahasa yang di sebut Ngoko Lugu dan Ngoko Andap. Sedangkan bahasa Jawa Krama digunakan terhadap orang yang belum di kenal akrab tapi sebaya baik umur maupun derajat. Dapat juga di pakai bagi yang lebih tinggi umur serta status sosialnya. Ada pula bahasa Krama Inggil yang terdiri dari sekitar 300 kata. Digunakan untuk menyebutkan nama-nama anggota badan, benda milik, sifat, aktivitas dan emosi-emosi dari orang lebih tua maupun tinggi derajat sosialnya. Selain itu, ada juga penuturan yang di sebut bahasa Kedaton atau Bagongan, bahasa Krama Desa dan bahasa Kasar. Di lingkungan setempat, terutama dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Jawa di Kabupaten Lampung Tengah, bahasa yang digunakan lebih banyak menuturkan bahasa Jawa Kasar atau Jawa Pasaran. Penuturan ini lebih gampang di mengerti dan sering di pakai di dalam bercakap-cakap. Bahkan tidak sedikit suku lain mampu bercakap-cakap mempergunakan bahasa Jawa tersebut.

Masyarakat suku Jawa di Lampung Tengah masih memegang teguh kultur daerah asal. Hal ini nampak jelas terlihat dari bahasa yang digunakan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang ada di lingkungan setempat. Berbagai kesenian tradisional Jawa seperti: Jaranan, Reog Ponorogo dan Campursari terlihat seringkali di tanggap, baik di saat perayaan pernikahan, hari besar nasional dan lain-lain.

Selain suku Jawa, di Kabupaten Lampung Tengah terdapat masyarakat suku Sunda namun jumlahnya tak sebanyak suku Jawa. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Mereka juga awalnya adalah transmigran yang ditempatkan di beberapa kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Dilingkungan setempat, mereka menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa percakapan. Pemakaiannya dikenal atas tiga tingkatan, yaitu: bahasa Sunda lemes, sedang dan kasar. Bahasa Sunda lemes sering digunakan untuk berhubungan dengan orang tua, orang yang dituakan ataupun yang dihormati dan disegani. Bahasa Sunda sedang dipakai antara orang setaraf, baik tingkat umur maupun status sosial. Sedangkan bahasa Sunda kasar dipergunakan oleh atasan terhadap bawahan, juga sering digunakan oleh menak terhadap cacah dan terhadap sesama mereka yang sesuku.

Pola kebudayaan Sunda masih tampak dilingkungan masyarakat suku Sunda yang bermukim di Kabupaten Lampung Tengah. Kenyataan itu terlihat dari bahasa daerah yang dituturkan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang berkembang dilingkungan mereka. Beberapa kesenian tradisional baik berupa bebunyian maupun tari-tarian acapkali digelar saat ada prosesi penting.

Masyarakat dominan lain yang bermukim di Lampung Tengah adalah penduduk suku Bali. Sebagian besar mendiami di beberapa kecamatan di wilayah timur dan sisanya berada di kecamatan lain di Lampung Tengah. Agama yang di anut mayoritas memeluk agama Hindu-Bali. Kampung-kampung Bali akan terasa bila saat berada di lingkungan setempat. Sama halnya dengan masyarakat suku Jawa dan Sunda, masyarakat suku Bali bermula dari transmigran yang ditempatkan di daerah ini. Penempatan itu terdiri dari beberapa tahapan. Sehari-harinya, penduduk setempat mempergunakan bahasa Bali sebagai penutur.

Bahasa Bali masih termasuk keluarga bahasa-bahasa Indonesia. Dari perbendaharaan kata serta strukturnya, bahasa Bali tidak jauh berbeda dengan bahasa-bahasa Indonesia lainnya. Peninggalan-peninggalan prasasti dari zaman Bali-Hindu menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. Di samping mengandung banyak kata-kata Sansekerta, pada masa kemudiannya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa kuno semasa Majapahit. Bahasa Bali mengenal pula apa yang dinamakan perbendaharaan kata-kata hormat meski tidak sebanyak di dalam bahasa Jawa. Penuturan bahasa Bali memiliki dialek khas.

Memasuki kampung-kampung masyarakat suku Bali terlihat khasanah yang begitu menonjol. Kehidupan keagamaan dan seni ukir Bali sangat akrab dilingkungan penduduknya. Tempat melakukan ibadat agama Hindu-Bali disebut Pura. Dalam kehidupan keagamaan, mereka percaya akan adanya satu Tuhan, dalam konsep Trimurti, Yang Esa. Trimurti mempunyai tiga wujud atau manifestasi, yakni wujud Brahmana; yang menciptakan, wujud Wisnu; yang melindungi dan memelihara serta wujud Siwa; yang melebur segalanya. Di samping itu, orang Bali juga percaya pada dewa dan roh yang lebih rendah dari Trimurti serta yang mereka hormati dalam upacara bersaji.

Kebudayaan Bali sebagai bagian dari budaya masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah, terlihat pada lingkungan kampung-kampung bersuku Bali yang bermukim di daerah ini. Adat istiadat serta kebudayaan lainnya berkembang dengan sendirinya seiring perputaran waktu. Berbagai kesenian baik seni rupa, seni pahat, seni musik dan tari tetap menjadi khasanah daerah.

Sementara itu, di kabupaten ini ada pula kelompok masyarakat suku Bugis-Makasar. Sebagian besar dari masyarakat suku Bugis-Makasar bertempat tinggal di daerah pesisir, terutama di Kecamatan Bandar Surabaya. Walaupun jumlah penduduknya tidak banyak namun di Kabupaten Lampung Tengah mereka sudah dikenal sejak dulu sebagai suku pelaut. Di daerah pedalaman (sekitar pusat ibukota kabupaten) jarang sekali ditemui kelompok orang Bugis-Makasar.

Bahasa penutur kelompok masyarakat ini mempergunakan bahasa Bugis-Makasar sebagai bahasa percakapan. Biasanya penggunaan bahasa daerah lebih sering di pakai di dalam lingkungan keluarga maupun sesama suku. Keberadaan mereka di Lampung Tengah pada awalnya atas inisiatif sendiri atau bukan atas dasar pentransmigrasian. Karenanya masyarakat Bugis-Makasar tidak banyak berdiam pada sebuah kampung tetapi hidup membaur dengan suku-suku lain di daerah belahan pesisir umumnya.

Sekarang ini, di Kabupaten Lampung Tengah berdiam berbagai macam suku-suku bangsa dalam jumlah yang tidak sebanyak suku Jawa, Sunda, Bali maupun Bugis-Makasar. Suku-suku bangsa seperti Ogan, Palembang, Padang, Batak dan lainnya telah menjadi bagian dari penduduk kabupaten ini. Satu sama lain berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan masing-masing, tempat dimana mereka tinggal dan menetap.

VISI MISI

Visi
Terwujudnya Lampung Tengah sebagai "Bumi Agribisnis" yang Maju, Aman, Sejahtera, dan Berwawasan Lingkungan dengan Pelayanan Publik yang Berkualitas PRIMA".

Misi
  1. Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan serta Keamanan Masyarakat melalui Pendekatan Keagamaan, Budaya, Politik, Hukum secara Demokratis dan Berkeadilan.
  2. Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur Wilayah yang Berkualitas pada Wilayah-Wilayah Perkampungan, Sentra-Sentra Produksi, dan Pusat-Pusat Pertumbuhan Baru secara Seimbang, Selaras dan Serasi.
  3. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berdaya Saing
  4. Meningkatkan Aktivitas Perekonomian berbasis Agribisnis yang Berorientasi Ekonomi Kerakyatan yang didukung oleh Dunia Usaha
  5. Mewujudkan Pemerintahan Daerah yang Baik dan Bertanggung Jawab serta Mampu Memberikan Pelayanan Prima kepada Masyarakat
  6. Meningkatkan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan secara berkelanjutan